You'll never know just how much I miss you
You'll never know just how much I care
And if I tried, I still couldn't hide my love for you
You ought to know, for haven't I told you so
A million or more times?
You went away and my heart went with you
I speak your name in my every prayer
If there is some other way to prove that I love you
I swear I don't know how
You'll never know if you don't know now
(You went away and my heart went with you
I speak your name in my every prayer)
If there is some other way to prove that I love you
I swear I don't know how
You'll never know if you don't know now
You'll never know if you don't know now
GITASYAHNI STORIES
Selasa, 28 Februari 2017
Sabtu, 25 Februari 2017
Kali kedua
Jika wangimu saja bisa
Memindahkan duniaku
Maka cintamu pasti bisa
Mengubah jalan hidupku
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
Jika senyummu saja bisa
Mencuri detak jantungku
Maka pelukkan mu yang bisa
Menyapu seluruh hatiku
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
(Satukan hati, tanpa peduli)
Kedua kali kita bersama lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
Sama Indahnya
Memindahkan duniaku
Maka cintamu pasti bisa
Mengubah jalan hidupku
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
Jika senyummu saja bisa
Mencuri detak jantungku
Maka pelukkan mu yang bisa
Menyapu seluruh hatiku
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
(Satukan hati, tanpa peduli)
Kedua kali kita bersama lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
Sama Indahnya
Kamis, 23 Februari 2017
KEJENUHAN
Ada kalanya aku merasakan jenuh yang tidak terkira, merasakan kesedihan yang menyesakkan dada, dan kegundahan yang melelehkan air mata sepanjang malam. Ada kalanya juga aku merasa bahwa hidupku terasa sia - sia. Semua terasa begitu membosankan, begitu berat dirasakan dan begitu pahit tertelan. Sampai - sampai ke putus asa an pun menghampiri. Merasa diri paling sengsara di dunia, paling menyedihkan dan paling hancur. Jika sudah seperti itu akhirnya yang terjadi adalah jatuh dalam keterpurukan... serasa Tuhan menjauh dari hidupku. Padahal aku lah yang menjauh dari Tuhan dan bersoraklah iblis melihat aku jatuh dalam cobaannya.
Namun begitulah hidup... semua manusia pasti pernah merasakan pada titik jenuh... dimana kita hanya bisa menyesali, mengumpat, menangis dan terus bertanya mengapa begini oh Tuhan... mengapa begitu oh Tuhan... serasa sudah melakukan usaha yang paling keras namun Tuhan tidak mau mendengarkan. Padahal kalau kita sadari itu adalah kesalahan kita, dimana tak mungkin Tuhan langsung mengabulkan doa yang memaksa. Kita diijinkan masuk dalam cobaan tidak lain adalah untuk kita bisa menjadi lebih kuat dalam iman atau tidak.
Berbicara masalah iman hanya kita dan Tuhan yang tau seberapa besar iman kita, orang lain tak berhak menilai namun hanya bisa menerka dan melihat saja. Iman yang benar tidak akan kita pamer-pamerkan.. karena itu berarti kita sudah menerima upahnya hanya segitu saja. Aku juga merasa aku ini pendosa, bahkan terkadang aku begitu takut Tuhan memurkai aku..namun karena aku percaya Tuhan itu penuh kasih.. aku merasakan Tuhan begitu Mulia menerimaku dengan keadaan apapun..Terimakasih Tuhan Yesus...
Kembali dalam kejenuhan...terkadang aku berfikir kalau aku tak pernah bahagia. Aku selalu bertanya dalam hati kenapa begitu mudah orang menyakiti aku. Apa yang salah dengan hidupku padahal aku selalu mencintai dengan sepenuh hati orang - orang yang aku kasihi dan aku sayangi. Namun sekali lagi...cinta tanpa ujian bukanlah cinta yang mendalam, karena penderitaanlah yang mengukur seberapa dalam cinta kita.
Kini tiada henti rasa syukurku pada Tuhan.. setelah melewati masa keterpurukkan dengan tuntunan Tuhan aku menemukan diriku sendiri dan juga cintaku yang sebenarnya. Walau semua harus terlewati dengan segala kepahitan namun janji Tuhan memberikan anggur dan gandum begitu nyata... Terimakasih Tuhan.. Kau beri aku kekuatan yang tak pernah aku pikirkan bahwa aku bisa melewati semua ini dengan baik. Meski jalan masih terjal namun aku yakin jalanMu akan begitu indah bagiku esok hari. Terimakasih Tuhan..Engkaulah kota bentengku, gunung batuku dan Engkau berkati kami dengan cinta kasih yang tiada tara...
Selasa, 21 Februari 2017
HARUSKAH....?
Hari - hari berlalu dalam kesedihan, menyiksa batin yang hanya bisa kurasa dan terus kusimpan sendiri. Tak seorangpun yang tau apalagi bisa merasakan yang aku rasakan hingga kini. Hanya Tuhan satu - satunya tempatku mengadu..tempatku bicara..dan tempatku menangis mencurahkan segala rasaku.. dan hanya Tuhan yang memberiku air mata untuk mengobati segala kesakitan di dadaku... Tuhan begitu ajaib.. mengasihiku dengan segala kasih-Nya.. dan aku manusia berdosa ini tetap selalu Tuhan kasihi..Tuhan tuntun aku ke jalan baik-Nya..
Seperti saat ini... aku tak punya siapapun yang bisa menghiburku..bahkan mendengar segala keluh kesahku... tak seorangpun.. aku selalu berjuang sendiri mengusir segala kesedihan..dari semenjak saat kehancuranku saat itu hingga kerapuhanku saat ini. Saat anakku terkasih lahir dan pergi meninggalkan aku.. bukan penguatan yang aku dapatkan namun tuduhan dan penyalahan yang terus-terus aku terima. Padahal tak seorangpun tau penderitaanku dari saat mengandung hingga melahirkannya..bahkan setelah kepergiannya. Tak seorangpun tau betapa aku tak ingin hidup lagi namun semua hanya menyalahkanku.. menuduh dan menghunjam hatiku. Dan aku... aku hanya terus diam... menutup semua lukaku agar tak terus berdarah.. Mereka tak pernah tau.. sekuat apa aku mempertahankannya hingga bisa lahir kedunia... seorang diri menahan segala kesakitan..kesedihan ..tak seorangpun tau setiap malam hanyalah air mata dan doa minta kekuatan pada Tuhan... meski seolah tak terjawab oleh Tuhan.. tapi aku tak pernah lelah memohon agar anakku Jonathan bisa lahir dengan selamat... dan Tuhan jawab..namun akhirnya Tuhan lebih sayang padanya dan Jona pun kembali kepangkuan Tuhan.. meninggalkan aku dengan segala kehancuran..hampir gila namun sekali lagi Tuhan menolongku...
Dan entahlah apakah memang hidupku harus selalu pahit.. sehingga aku dua kali tak bisa melanjutkan calon anakku lahir kedunia... sedih dan pedih sekali.. dan itu aku terus tanggung sendiri.. dalam segala kerapuhan aku harus selalu terlihat kuat.. batin selalu menangis tapi bibir harus selalu tersenyum tak boleh ada kesedihan. Tuhan... rencana baik apa yang akan Engkau berikan padak ku... sehingga begitu dalam kesakitan yang harus aku lalui... Namun kupercaya Tuhan..semua itu pasti baik untukku..
Aku terhempas dalam sepiku seorang diri tanpa bisa memohon bahkan pada orang yang kucintai.. cintaku seakan hanya aku.. sayangku seakan hanya aku.. aku tak pernah mengerti apa yang sedang kujalani ini. Karena aku hanya berpasrah diri pada Tuhan agar semua kehendakNya yang jadi.. Biarlah segala kepedihan ini aku jalani.. mungkin sampai akhir hidupku sampai Tuhan menyatakan aku harus pulang ke rumahNya..
Segala sengsara aku usahakan sendiri kebangkitannya,.. bersama Tuhan aku selalu melipurnya... kujalani jalan terjal ini.. dengan Tuhan terus menopangku agar aku tak terjatuh. Aku hanya ingin bahagia dengan orang yang kukasihi Tuhan... dan yang mengasihi aku tentunya.. menyayangi aku seperti seharusnya..mengasihi aku seperti selayaknya dan menjagaku seperti janjinya... meski itu kurasa tak sebanyak yang seharusnya.. aku merelakan diriku dalam kesabaran...positif kan semua pikiran dan hatiku..meski seringkali hinggap rasa sakit di dadaku... aku selalu memaafkan.. bahkan untuk yang sangat menyakitkan...
Tuhan... sampai kapankah aku akan terus tersakiti...sampai kapan semua rasa ini akan terkhianati..sampai kapan aku harus terus bersabar menerima semua kesakitan ini... Engkau tau Tuhan... cinta dan sayangku begitu besar... kasihku tulus hanya untuknya... aku memang pernah berdosa meninggalkannya..tapi Engkau tau Tuhan itu karena apa.. karena aku tidak kuat lagi dengan segala perbuatannya... dan kini Tuhan... Engkau pun tau betapa aku mengubur semua kesalahannya...memaafkan dan tak menyisakan lagi kebencian padanya.. aku tak sanggup lagi membencinya...aku terus menyayanginya..mencintainya..meski begitu banyak yang dia simpan dan entah kapan dia akan benar-benar setia tanpa orang lain ada dalam hidupnya.Aku terus percaya bahwa dia adalah milikku... dan aku menutup mata, telinga juga hati untuk orang lain yang masih ada dalam hidupnya..Tuhan.. aku telah memilihnya dan aku siapkan hati untuk segala yang terjadi...jikapun itu menyakitkan ..aku percaya Engkau akan selalu menguatkanku...
Tuhan.... aku percaya semua rencanaMu baik untukku dan untukknya... hanya Engkau yang mampu menjaga dia di sana , mengingatkan dia untuk jauh dari ketidaksetiaan. Sehatkan selalu Tuhan.. karena hanya Engkau yang bisa mengangkat segala sakit yang ada di badannya..Dan untuk anakku Jonathan ya Tuhan... aku percaya Kau penuhi dia dengan kebahagiaan... biarlah aku hanya bisa melihat tempat peristirahatnya setiap saat..namun Engkaulah yang menjaga dia di surga...
Ampunkan kami ya Tuhan atas segala dosa kami..dan berkatilah kami dengan segala kekurangan kami. Jadikan kami anakMu yang taat atas seluruh firmanMu... Engkau tak akan meninggalkan kami...dan raihlah kami jika kami mulai menjauh dari jalanMu...Aku mengasihi Engkau Tuhan Yesusku yang baik...
Senin, 20 Februari 2017
DEPRESI
Aku tidak pernah terpikir bahwa aku akan mengalami depresi. Aku pikir
hanya orang lain saja yang mengalami depresi. Aku menganggap depresi hanyalah
sebuah titik bawah kehidupan yang dialami oleh beberapa orang dan pada
akhirnya mereka akan lepas daripadanya, jika saja mereka berusaha cukup
keras.
Depresi adalah sebuah konsep yang asing bagiku, dan “depresi” adalah
sebuah kata yang biasa aku gunakan secara gampang saja ketika aku merasa
sedih. Aku tidak mengerti apa itu depresi—sampai ketika aku
mengalaminya.
Bagiku, depresi adalah sebuah awan hitam yang menggantung di atas
kepalaku, sebuah rasa dingin yang masuk ke dalam hatiku, sebuah tudung
yang menutupi penglihatanku. Depresi adalah hari-hari yang bergerak
dengan lambat, malam-malam yang penuh dengan air mata dan pikiran yang
tak terbendung. Depresi adalah amukan terhadap keluargaku, namun di saat
yang sama juga berpura-pura berlaku seakan aku baik-baik saja di
kantor, gereja, dan di luar rumah. Depresi adalah menangis tersedu-sedu
di satu waktu dan tidak merasa apa-apa di waktu yang lain. Depresi
adalah merasa diriku telah menjadi lebih baik di satu hari, dan merasa
diriku benar-benar hancur keesokan harinya.
Tiga tahun telah berlalu sejak aku menemukan bahwa apa yang sedang kualami saat itu ternyata mempunyai sebuah nama.
Aku mengalami depresi, dan inilah yang aku ingin kamu tahu.
Ada banyak malam ketika aku merasa sendirian dan begitu malang. Ada
banyak kali ketika kesedihan yang kurasakan terlalu berat untuk dapat
kutanggung, dan sekilas pikiran tentang kematian melintas di pikiranku.
Aku merasa seperti aku sedang menyia-nyiakan hidupku, seperti hidupku
telah kehilangan warnanya dan tidak ada hal lain yang dapat kupegang.
Beberapa minggu lalu, seorang pengkhotbah di gerejaku mengatakan
sebuah kalimat dalam khotbahnya yang menancap di kepalaku, dan yang
telah memberikanku banyak penghiburan: Allah beserta kita dan peduli
dengan kita.
Bahkan meskipun kamu merasa segalanya seakan tidak ada gunanya saat
ini, percayalah bahwa Allah selalu berdaulat, mahatahu, berkuasa,
bermurah hati, menyayangi, mengasihi, dan baik.
Depresi tak dapat memisahkanku dari kasih Allah, meskipun aku tak
merasakan kasih itu. Meskipun malam-malam terasa panjang
dan penuh dengan ratapan, dan selalu aku ingat bahwa sukacita akan datang di pagi
hari. Dia adalah Bapa segala rahmat dan Allah segala
penghiburan, yang menghiburku dalam segala penderitaanku.
Allah selalu menolongku. Dia ada di sisiku dalam perjuanganku. Dia
membuatku bertahan dan memberiku kekuatan. Yang aku perlu lakukan
hanyalah memanggil nama-Nya dan mendekat kepada-Nya.
Sebuah cara untuk mengingat kebenaran yang berharga tentang Allah ini
adalah dengan mengingatkan diriku setiap hari tentang
kebenaran-kebenaran tersebut—bahkan lebih sering ketika aku sedang
menghadapi perang terhadap pikiran dan perasaan depresi.
Datang kepada Tuhan dapat menjadi sebuah hal yang sulit, khususnya
ketika derajat depresi yang aku alami begitu berat sampai-sampai
membuka Alkitab atau mengucapkan doa terasa seperti sebuah pekerjaan.
Aku tahu, karena aku merasa seperti itu—dan kadang masih seperti itu.
Kesalahanku adalah karena aku bepaling kepada hal-hal lain yang lebih
rendah untuk menghibur diriku, yang hanya akan menyembuhkan mati rasaku
untuk sementara waktu tanpa benar-benar mengisi lubang yang menganga di
hatiku.
Namun Tuhan akan melakukan hal-hal yang luar biasa ketika kita
memilih untuk berpaling kepada-Nya. Firman-Nya telah menghiburku begitu
luar biasa saat ini—terutama kitab Mazmur, yang biasanya begitu
membosankan bagiku. Tapi kini, di tengah air mataku, aku akhirnya dapat
berempati dengan para pemazmur yang menuliskan mazmur mereka ketika
mereka sedang berada di tengah penderitaan yang hebat atau ada di ujung
kematian. Ada banyak mazmur yang menceritakan penderitaan para pemazmur,
bagaimana mereka memalingkan pandangan mereka kepada Tuhan, mengingat
kasih setia-Nya dan kasih-Nya yang kokoh, dan ditolong oleh tangan-Nya
yang berkuasa (Mazmur 23, 30, 31, 62, 143).
Aku menuliskan ayat-ayat yang Tuhan pakai untuk mengatakan tentang
damai ke dalam hatiku. Ayat-ayat itu melebihi segala pengertian, dan
akan senantiasa kubawa dan kubaca dengan keras kepada diriku sendiri
ketika aku mulai merasa depresi. Aku juga mendengarkan lagu-lagu
penyembahan yang berpusat pada Kristus sebagai dasar bagiku.
Diperlukan usaha untuk melihat ke luar dan ke atas kepada Tuhan. Tapi
hanya Tuhan saja yang dapat memberikan kita kedamaian dan penghiburan
yang kita cari dan butuhkan.
Pada awalnya, aku tidak dapat menceritakan apa yang sebenarnya
kurasakan atau sedang kuhadapi. Semua yang aku tahu adalah aku menangis
tanpa sebab yang jelas, selalu meratap, melalui sebuah kesedihan yang
dalam dan tidak pernah pergi. Aku tidak selalu dekat dengan keluargaku,
khususnya orang tuaku, dan aku tidak dapat dan tidak tahu bagaimana
menceritakan apa yang terjadi pada diriku.
Aku pun pergi dan menceritakannya kepada teman dekatku. Ada masa-masa di mana aku bereaksi dengan buruk dan Tuhan
memakai saudari-saudariku ini untuk membagikan ayat-ayat Alkitab
denganku, sebuah lagu atau kata-kata yang menguatkan yang aku butuhkan
saat ini.
Aku mulai berfikir untuk menemui seorang konselor Kristen. Mungkin dia bisa membantuku melalui berbagai masalah yang
memicu depresiku.
Aku tahu betapa menakutkannya untuk memberitahu orang-orang
yang aku kasihi, dan untuk memulai pertemuan dengan seorang
profesional, tapi aku akan coba melakukannya. Karena tanpa
dukungan mereka, aku tahu aku masih berada di tempat yang sangat buruk.
Mulai saat ini aku ingin dalam kebaikan dan kesetiaan Tuhan, Dia akan
mengangkat kabut dari depresiku, sedikit demi sedikit. Dalam masa-masa
yang sulit dan gelap, Dia menjadi cahayaku, kekuatanku, dan
nyanyianku. Dia telah menempatkan orang-orang di dalam hidupku yang
menunjukkan kasih Kristus kepadaku melalui penguatan, dukungan, dan
doa-doa mereka. Dan yang terpenting, dalam proses tersebut Dia membuatku
melihat lebih dalam tentang siapa diri-Nya, dan dengan halus berjanji
kepadaku bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk
mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka
yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).
Untuk itu, aku berterima kasih kepada-Nya.
Aku yakin dan aku tahu bahwa aku tidak pernah dan takkan pernah
sendirian. Aku dikasihi sebagai seorang anak Allah, yang telah, sedang,
dan selalu bersama denganku dan peduli kepadaku. Aku akan beristirahat dan
tenang di dalam kasih-Nya.
Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu,
ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana;
jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar,
dan membuat kediaman di ujung laut,
juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku,
dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku,
dan terang sekelilingku menjadi malam,”
maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu,
dan malam menjadi terang seperti siang;
kegelapan sama seperti terang.
— Mazmur 139:7-12
ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana;
jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar,
dan membuat kediaman di ujung laut,
juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku,
dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku,
dan terang sekelilingku menjadi malam,”
maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu,
dan malam menjadi terang seperti siang;
kegelapan sama seperti terang.
— Mazmur 139:7-12
Minggu, 19 Februari 2017
Kupasrahkan hidupku
Rasa berat beban yang kupikul
Tekanan hidup datang silih berganti
Kupanggil namaMu dalam hadiratMu
Aku berserah jamalah aku Bapak
Peluklah aku Tuhan
Sebab langkah hidupku ini
Penuh kerikil duri
Kubersujud dan menyembah
Dengan tangan terbuka
Memanggil namaMu Bapak
Hati ini slalu rindu
Untuk nikmati tulusnya cintaMu
Dalam kekalutan hidupku
Dan pergumulan hidupku
Kupanggil dan kupanggil namaMu
Sebab Engkau Bapak yang tahu
Apa yang ada dihatiku
Bukan emas dan permata
Yang kubawa bagiMu
Tapi seluruh hidupku ini
Ijinkanlah aku
Untuk nikmati anugrah kasihMu
Tekanan hidup datang silih berganti
Kupanggil namaMu dalam hadiratMu
Aku berserah jamalah aku Bapak
Peluklah aku Tuhan
Sebab langkah hidupku ini
Penuh kerikil duri
Kubersujud dan menyembah
Dengan tangan terbuka
Memanggil namaMu Bapak
Hati ini slalu rindu
Untuk nikmati tulusnya cintaMu
Dalam kekalutan hidupku
Dan pergumulan hidupku
Kupanggil dan kupanggil namaMu
Sebab Engkau Bapak yang tahu
Apa yang ada dihatiku
Bukan emas dan permata
Yang kubawa bagiMu
Tapi seluruh hidupku ini
Ijinkanlah aku
Untuk nikmati anugrah kasihMu
Jumat, 17 Februari 2017
Doaku bagimu
Tuhan Yesus, saya bersyukur karena Engkau memberiku seorang suami. Berkati dia dengan kesehatan, kekuatan, kesabaran dan kesetiaan dalam menjalani hidup berumah tangga. Roh KudusMu kiranya memberi dia hati yang lemah lembut, setia dan selalu memiliki penguasaan diri, agar terhindar dari segala mara bahaya ataupun sifat dan sikap-sikap yang kasar.
Beri dia hikmat, kearifan, kemampuan dan perlindungan dalam bekerja mencari nafkah, agar kebutuhan rumah tangga kami dapat tercukupkan setiap hari. Perteguh imannya di hadapanMu, beri dia ketekunan beribadah, membaca Alkitab, menyanyi dan berdoa bersama. Sementara itu, tolonglah juga agar sebagai seorang istri, saya selalu setia, sabar, lembut hati, tidak cepat emosi sehingga kami boleh menjalani tahun-tahun hidup sebagai suami istri yang rukun, penuh cinta kasih, harmonis dan mesra. Aku menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. karena itu tolonglah dia agar dapat menerima aku sebagaimana adanya aku. Demikian pula penerimaanku terhadap keberadaannya. Kiranya suamiku selalu mengasihiku dan mencintaiku sebagaimana aku mencintainya setulus hati. Kiranya aku dan suaniku selalu memiliki rasa rindu, saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Aku mohon, kiranya cinta kasih itu mengalir dari cinta kasihMu yang kekal. ajarkan kami setiap hari untuk menumbuh kembangkan cinta kasih itu. Langgengkanlah cinta kasih diantara kami sampai kapanpun. Kiranya Allah Bapa sorgawi, sumber kesabaran menjadikan kami sehati sepikir seperasaan dan sepenanggungan di dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Dengarkanlah doaku demi kemuliaan nama Tuhan Yesus.
AMIN.
Langganan:
Komentar (Atom)