Senin, 20 Februari 2017

DEPRESI

Aku tidak pernah terpikir bahwa aku akan mengalami depresi. Aku pikir hanya orang lain saja yang mengalami depresi. Aku menganggap depresi hanyalah sebuah titik bawah kehidupan yang dialami oleh beberapa orang dan pada akhirnya mereka akan lepas daripadanya, jika saja mereka berusaha cukup keras.
Depresi adalah sebuah konsep yang asing bagiku, dan “depresi” adalah sebuah kata yang biasa aku gunakan secara gampang saja ketika aku merasa sedih. Aku tidak mengerti apa itu depresi—sampai ketika aku mengalaminya.

Bagiku, depresi adalah sebuah awan hitam yang menggantung di atas kepalaku, sebuah rasa dingin yang masuk ke dalam hatiku, sebuah tudung yang menutupi penglihatanku. Depresi adalah hari-hari yang bergerak dengan lambat, malam-malam yang penuh dengan air mata dan pikiran yang tak terbendung. Depresi adalah amukan terhadap keluargaku, namun di saat yang sama juga berpura-pura berlaku seakan aku baik-baik saja di kantor, gereja, dan di luar rumah. Depresi adalah menangis tersedu-sedu di satu waktu dan tidak merasa apa-apa di waktu yang lain. Depresi adalah merasa diriku telah menjadi lebih baik di satu hari, dan merasa diriku benar-benar hancur keesokan harinya.

Tiga tahun telah berlalu sejak aku menemukan bahwa apa yang sedang kualami saat itu ternyata mempunyai sebuah nama.
Aku mengalami depresi, dan inilah yang aku ingin kamu tahu.
 
Ada banyak malam ketika aku merasa sendirian dan begitu malang. Ada banyak kali ketika kesedihan yang kurasakan terlalu berat untuk dapat kutanggung, dan sekilas pikiran tentang kematian melintas di pikiranku. Aku merasa seperti aku sedang menyia-nyiakan hidupku, seperti hidupku telah kehilangan warnanya dan tidak ada hal lain yang dapat kupegang.

Beberapa minggu lalu, seorang pengkhotbah di gerejaku mengatakan sebuah kalimat dalam khotbahnya yang menancap di kepalaku, dan yang telah memberikanku banyak penghiburan: Allah beserta kita dan peduli dengan kita.

Bahkan meskipun kamu merasa segalanya seakan tidak ada gunanya saat ini, percayalah bahwa Allah selalu berdaulat, mahatahu, berkuasa, bermurah hati, menyayangi, mengasihi, dan baik.

Depresi tak dapat memisahkanku dari kasih Allah, meskipun aku tak merasakan kasih itu. Meskipun malam-malam terasa panjang dan penuh dengan ratapan, dan selalu aku ingat bahwa sukacita akan datang di pagi hari. Dia adalah Bapa segala rahmat dan Allah segala penghiburan, yang menghiburku dalam segala penderitaanku.

Allah selalu menolongku. Dia ada di sisiku dalam perjuanganku. Dia membuatku bertahan dan memberiku kekuatan. Yang aku perlu lakukan hanyalah memanggil nama-Nya dan mendekat kepada-Nya.
Sebuah cara untuk mengingat kebenaran yang berharga tentang Allah ini adalah dengan mengingatkan diriku setiap hari tentang kebenaran-kebenaran tersebut—bahkan lebih sering ketika aku sedang menghadapi perang terhadap pikiran dan perasaan depresi.

Datang kepada Tuhan dapat menjadi sebuah hal yang sulit, khususnya ketika derajat depresi yang aku alami begitu berat sampai-sampai membuka Alkitab atau mengucapkan doa terasa seperti sebuah pekerjaan. Aku tahu, karena aku merasa seperti itu—dan kadang masih seperti itu.

Kesalahanku adalah karena aku bepaling kepada hal-hal lain yang lebih rendah untuk menghibur diriku, yang hanya akan menyembuhkan mati rasaku untuk sementara waktu tanpa benar-benar mengisi lubang yang menganga di hatiku.

Namun Tuhan akan melakukan hal-hal yang luar biasa ketika kita memilih untuk berpaling kepada-Nya. Firman-Nya telah menghiburku begitu luar biasa saat ini—terutama kitab Mazmur, yang biasanya begitu membosankan bagiku. Tapi kini, di tengah air mataku, aku akhirnya dapat berempati dengan para pemazmur yang menuliskan mazmur mereka ketika mereka sedang berada di tengah penderitaan yang hebat atau ada di ujung kematian. Ada banyak mazmur yang menceritakan penderitaan para pemazmur, bagaimana mereka memalingkan pandangan mereka kepada Tuhan, mengingat kasih setia-Nya dan kasih-Nya yang kokoh, dan ditolong oleh tangan-Nya yang berkuasa (Mazmur 23, 30, 31, 62, 143).

Aku menuliskan ayat-ayat yang Tuhan pakai untuk mengatakan tentang damai ke dalam hatiku. Ayat-ayat itu melebihi segala pengertian, dan akan senantiasa kubawa dan kubaca dengan keras kepada diriku sendiri ketika aku mulai merasa depresi. Aku juga mendengarkan lagu-lagu penyembahan yang berpusat pada Kristus sebagai dasar bagiku.
Diperlukan usaha untuk melihat ke luar dan ke atas kepada Tuhan. Tapi hanya Tuhan saja yang dapat memberikan kita kedamaian dan penghiburan yang kita cari dan butuhkan.

Pada awalnya, aku tidak dapat menceritakan apa yang sebenarnya kurasakan atau sedang kuhadapi. Semua yang aku tahu adalah aku menangis tanpa sebab yang jelas, selalu meratap, melalui sebuah kesedihan yang dalam dan tidak pernah pergi. Aku tidak selalu dekat dengan keluargaku, khususnya orang tuaku, dan aku tidak dapat dan tidak tahu bagaimana menceritakan apa yang terjadi pada diriku.

Aku pun pergi dan menceritakannya kepada teman dekatku. Ada masa-masa di mana aku bereaksi dengan buruk dan Tuhan memakai saudari-saudariku ini untuk membagikan ayat-ayat Alkitab denganku, sebuah lagu atau kata-kata yang menguatkan yang aku butuhkan saat ini.

Aku mulai berfikir untuk menemui seorang konselor Kristen. Mungkin dia bisa membantuku melalui berbagai masalah yang memicu depresiku.
Aku tahu betapa menakutkannya untuk memberitahu orang-orang yang aku kasihi, dan untuk memulai pertemuan dengan seorang profesional, tapi aku akan coba melakukannya. Karena tanpa dukungan mereka, aku tahu aku masih berada di tempat yang sangat buruk.

Mulai saat ini aku ingin dalam kebaikan dan kesetiaan Tuhan, Dia akan mengangkat kabut dari depresiku, sedikit demi sedikit. Dalam masa-masa yang sulit dan gelap, Dia menjadi cahayaku, kekuatanku, dan nyanyianku. Dia telah menempatkan orang-orang di dalam hidupku yang menunjukkan kasih Kristus kepadaku melalui penguatan, dukungan, dan doa-doa mereka. Dan yang terpenting, dalam proses tersebut Dia membuatku melihat lebih dalam tentang siapa diri-Nya, dan dengan halus berjanji kepadaku bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).
Untuk itu, aku berterima kasih kepada-Nya.

Aku yakin dan aku tahu bahwa aku tidak pernah dan takkan pernah sendirian. Aku dikasihi sebagai seorang anak Allah, yang telah, sedang, dan selalu bersama denganku dan peduli kepadaku. Aku akan beristirahat dan tenang di dalam kasih-Nya.

 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu,
ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana;
jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar,
dan membuat kediaman di ujung laut,
juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku,
dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku,
dan terang sekelilingku menjadi malam,”
maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu,
dan malam menjadi terang seperti siang;
kegelapan sama seperti terang.
— Mazmur 139:7-12



Tidak ada komentar:

Posting Komentar