Aku tidak pernah terpikir bahwa aku akan mengalami depresi. Aku pikir
hanya orang lain saja yang mengalami depresi. Aku menganggap depresi hanyalah
sebuah titik bawah kehidupan yang dialami oleh beberapa orang dan pada
akhirnya mereka akan lepas daripadanya, jika saja mereka berusaha cukup
keras.
Depresi adalah sebuah konsep yang asing bagiku, dan “depresi” adalah
sebuah kata yang biasa aku gunakan secara gampang saja ketika aku merasa
sedih. Aku tidak mengerti apa itu depresi—sampai ketika aku
mengalaminya.
Bagiku, depresi adalah sebuah awan hitam yang menggantung di atas
kepalaku, sebuah rasa dingin yang masuk ke dalam hatiku, sebuah tudung
yang menutupi penglihatanku. Depresi adalah hari-hari yang bergerak
dengan lambat, malam-malam yang penuh dengan air mata dan pikiran yang
tak terbendung. Depresi adalah amukan terhadap keluargaku, namun di saat
yang sama juga berpura-pura berlaku seakan aku baik-baik saja di
kantor, gereja, dan di luar rumah. Depresi adalah menangis tersedu-sedu
di satu waktu dan tidak merasa apa-apa di waktu yang lain. Depresi
adalah merasa diriku telah menjadi lebih baik di satu hari, dan merasa
diriku benar-benar hancur keesokan harinya.
Tiga tahun telah berlalu sejak aku menemukan bahwa apa yang sedang kualami saat itu ternyata mempunyai sebuah nama.
Aku mengalami depresi, dan inilah yang aku ingin kamu tahu.
Ada banyak malam ketika aku merasa sendirian dan begitu malang. Ada
banyak kali ketika kesedihan yang kurasakan terlalu berat untuk dapat
kutanggung, dan sekilas pikiran tentang kematian melintas di pikiranku.
Aku merasa seperti aku sedang menyia-nyiakan hidupku, seperti hidupku
telah kehilangan warnanya dan tidak ada hal lain yang dapat kupegang.
Beberapa minggu lalu, seorang pengkhotbah di gerejaku mengatakan
sebuah kalimat dalam khotbahnya yang menancap di kepalaku, dan yang
telah memberikanku banyak penghiburan: Allah beserta kita dan peduli
dengan kita.
Bahkan meskipun kamu merasa segalanya seakan tidak ada gunanya saat
ini, percayalah bahwa Allah selalu berdaulat, mahatahu, berkuasa,
bermurah hati, menyayangi, mengasihi, dan baik.
Depresi tak dapat memisahkanku dari kasih Allah, meskipun aku tak
merasakan kasih itu. Meskipun malam-malam terasa panjang
dan penuh dengan ratapan, dan selalu aku ingat bahwa sukacita akan datang di pagi
hari. Dia adalah Bapa segala rahmat dan Allah segala
penghiburan, yang menghiburku dalam segala penderitaanku.
Allah selalu menolongku. Dia ada di sisiku dalam perjuanganku. Dia
membuatku bertahan dan memberiku kekuatan. Yang aku perlu lakukan
hanyalah memanggil nama-Nya dan mendekat kepada-Nya.
Sebuah cara untuk mengingat kebenaran yang berharga tentang Allah ini
adalah dengan mengingatkan diriku setiap hari tentang
kebenaran-kebenaran tersebut—bahkan lebih sering ketika aku sedang
menghadapi perang terhadap pikiran dan perasaan depresi.
Datang kepada Tuhan dapat menjadi sebuah hal yang sulit, khususnya
ketika derajat depresi yang aku alami begitu berat sampai-sampai
membuka Alkitab atau mengucapkan doa terasa seperti sebuah pekerjaan.
Aku tahu, karena aku merasa seperti itu—dan kadang masih seperti itu.
Kesalahanku adalah karena aku bepaling kepada hal-hal lain yang lebih
rendah untuk menghibur diriku, yang hanya akan menyembuhkan mati rasaku
untuk sementara waktu tanpa benar-benar mengisi lubang yang menganga di
hatiku.
Namun Tuhan akan melakukan hal-hal yang luar biasa ketika kita
memilih untuk berpaling kepada-Nya. Firman-Nya telah menghiburku begitu
luar biasa saat ini—terutama kitab Mazmur, yang biasanya begitu
membosankan bagiku. Tapi kini, di tengah air mataku, aku akhirnya dapat
berempati dengan para pemazmur yang menuliskan mazmur mereka ketika
mereka sedang berada di tengah penderitaan yang hebat atau ada di ujung
kematian. Ada banyak mazmur yang menceritakan penderitaan para pemazmur,
bagaimana mereka memalingkan pandangan mereka kepada Tuhan, mengingat
kasih setia-Nya dan kasih-Nya yang kokoh, dan ditolong oleh tangan-Nya
yang berkuasa (Mazmur 23, 30, 31, 62, 143).
Aku menuliskan ayat-ayat yang Tuhan pakai untuk mengatakan tentang
damai ke dalam hatiku. Ayat-ayat itu melebihi segala pengertian, dan
akan senantiasa kubawa dan kubaca dengan keras kepada diriku sendiri
ketika aku mulai merasa depresi. Aku juga mendengarkan lagu-lagu
penyembahan yang berpusat pada Kristus sebagai dasar bagiku.
Diperlukan usaha untuk melihat ke luar dan ke atas kepada Tuhan. Tapi
hanya Tuhan saja yang dapat memberikan kita kedamaian dan penghiburan
yang kita cari dan butuhkan.
Pada awalnya, aku tidak dapat menceritakan apa yang sebenarnya
kurasakan atau sedang kuhadapi. Semua yang aku tahu adalah aku menangis
tanpa sebab yang jelas, selalu meratap, melalui sebuah kesedihan yang
dalam dan tidak pernah pergi. Aku tidak selalu dekat dengan keluargaku,
khususnya orang tuaku, dan aku tidak dapat dan tidak tahu bagaimana
menceritakan apa yang terjadi pada diriku.
Aku pun pergi dan menceritakannya kepada teman dekatku. Ada masa-masa di mana aku bereaksi dengan buruk dan Tuhan
memakai saudari-saudariku ini untuk membagikan ayat-ayat Alkitab
denganku, sebuah lagu atau kata-kata yang menguatkan yang aku butuhkan
saat ini.
Aku mulai berfikir untuk menemui seorang konselor Kristen. Mungkin dia bisa membantuku melalui berbagai masalah yang
memicu depresiku.
Aku tahu betapa menakutkannya untuk memberitahu orang-orang
yang aku kasihi, dan untuk memulai pertemuan dengan seorang
profesional, tapi aku akan coba melakukannya. Karena tanpa
dukungan mereka, aku tahu aku masih berada di tempat yang sangat buruk.
Mulai saat ini aku ingin dalam kebaikan dan kesetiaan Tuhan, Dia akan
mengangkat kabut dari depresiku, sedikit demi sedikit. Dalam masa-masa
yang sulit dan gelap, Dia menjadi cahayaku, kekuatanku, dan
nyanyianku. Dia telah menempatkan orang-orang di dalam hidupku yang
menunjukkan kasih Kristus kepadaku melalui penguatan, dukungan, dan
doa-doa mereka. Dan yang terpenting, dalam proses tersebut Dia membuatku
melihat lebih dalam tentang siapa diri-Nya, dan dengan halus berjanji
kepadaku bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk
mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka
yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).
Untuk itu, aku berterima kasih kepada-Nya.
Aku yakin dan aku tahu bahwa aku tidak pernah dan takkan pernah
sendirian. Aku dikasihi sebagai seorang anak Allah, yang telah, sedang,
dan selalu bersama denganku dan peduli kepadaku. Aku akan beristirahat dan
tenang di dalam kasih-Nya.
Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu,
ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana;
jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar,
dan membuat kediaman di ujung laut,
juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku,
dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku,
dan terang sekelilingku menjadi malam,”
maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu,
dan malam menjadi terang seperti siang;
kegelapan sama seperti terang.
— Mazmur 139:7-12
ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana;
jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar,
dan membuat kediaman di ujung laut,
juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku,
dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku,
dan terang sekelilingku menjadi malam,”
maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu,
dan malam menjadi terang seperti siang;
kegelapan sama seperti terang.
— Mazmur 139:7-12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar